Diary Of Jeun Syeong
Matsu Jun adalah seorang pemuda berusia 23 tahun, berketurunan Jepang yang sudah lama menetap di Korea sejak kakek-kakek buyutnya. Dulunya Matsu Jun tinggal di balik bukit dekat lapangan sekolah. Namun sekarang ia telah tinggal di Jepang, negara asalnya. Matsu Jun adalah seorang pemuda multitalented, ia seorang arsitek sekaligus penerus usaha orang tua nya serta pemilik Rumah Seni di atas bukit tempat ia dulu tinggal di Korea.
Aku sangat mengenal Jeunsi…
Jeun Syeong, aku sangat menyayanginya lebih dari aku menyayangi adik angkat ku sendiri. Dan aku yakin dia pun begitu dengan ku. Jeunsi begitu panggilan dariku untuknya. Aku sudah menganggap Jeunsi seperti adik ku sendiri sejak aku mengenal dia ketika SD. Sejak masih SD kami sudah saling mengenal, maklum orang tua kami adalah relasi bisnis, tepatnya bisnis/usaha rumah makan dan pemandian air panas yang di beri nama “YOSHIMOTO". Aku dan kedua orang tua ku dulu sering mengunjungi Jeunsi dan keluarga nya. Sejak saat itu, aku dan Jeunsi mulai akrab hingga akhirnya kedua orang tua kami pun sepakat untuk menyekolahkan kami di SMP yang sama. Walaupun aku sebaya dengannya, tapi aku melihatnya seperti seorang gadis kecil. Ya, Jeunsi memang lah anak tunggal yang manja, sehingga sifat nya terlalu kekanak-kanakan untuk seusianya.
Libur Panjang telah usai, musim telah berganti. Musim semi pun menghampiri. Aku melihat Jeunsi sedang mengendarai sepeda barunya dari kejauhan yang tampaknya akan mendatangi ku. Dan tepat saja, wajah Jeunsi sudah berseri-seri sambil memanggil-manggil nama ku. “Jun..Jun..Jun, cepatlah ! kita akan terlambat jika kau terus berlama-lama seperti itu, ini hari pertama kita disekolah mahal itu”, seru Jeunsi. Aku sudah biasa dengan omelannya yang disertai dengan suaranya yang sedikit cempreng menurut ku. Aku pun segera mengambil sepeda ku dari garasi dan segera menyusul Jeunsi untuk berangkat ke sekolah baru kami.
“Hai Jun, bagaimana menurut mu sekolah baru ini, serasa seperti seorang siswa kaya bukan ?”, Tanya Jeunsi di depan pintu gerbang sekolah.
“Menurut ku ini adalah sekolah di mana orang-orang sok kaya dan jagoan berkumpul”, jawab Jun dengan sedikit sinis.
Aku memang tidak menyukai sekolah baru ku ini, ya aku hanya terpaksa sekolah disini, pastinya karena mengikuti pilihan orang tuaku dan tentunya pilihan seorang sahabat sekaligus adik yang sangat ku sayangi, Jeunsi. Jeunsi menyukai olahraga renang sama seperti ku, makadari itu ia memilih sekolah itu karena pamannya adalah guru sekaligus pelatih renang di sekolah itu. Banyak atlit-atlit renang yang dihasilkan oleh sekolah itu dan itu membuat Jeunsi bersemangat dan memilih sekolah itu.
“Jeunsi, kau tau, betapa aku sangat tidak menyukai tempat ini ?”, kesal Jun.
“Ayolah Jun, kita hanya 2 tahun berada di sekolah ini, setelah itu kita berdua akan menjadi atlit renang professional sekaligus kau menjadi seorang arsitek dan tentunya aku akan menjadi seorang istri yang baik bagi suami ku kelak”, jawab Jeunsi dengan candaannya.
“OOHH!! Baiklah Jeunsi, hentikan semua lelucon mu, aku tidak akan menjadi seorang arsitek dan kau tau sendiri itu bukan ?”, sahut Jun dengan tampang kusutnya.
Orang tua ku tidak mengizinkan ku menjadi seorang arsitek, melainkan menjadi seorang Pengusaha yang nantinya akan menekuni dan melanjutkan usaha orang tua ku. Dan aku sangat benci dengan yang namanya usaha rumahan. Aku ingin menjadi seorang arsitek, tentunya seorang arsitek yang terkenal yang kelak akan merancang sebuah bangunan antic dan akan dikenang sepanjang masa, seperti Antoni Gaudi, seorang arsitek asal Spanyol bergaya Nouveau. Rancangan bangunannya yang terkenal adalah The Casa Miala di Barcelona. Aku tau kalau pun aku menjadi seorang arsitek aku tidak akan seterkenal Antoni Gaudi. Tapi setidaknya aku bisa menjadi seorang arsitek asal Jepang yang terkenal di Korea dan Jepang, hanya itu.
“Jeunsi, boleh aku meminta sesuatu pada mu?”, tanya Jun dengan sedikit harapan.
“Apa itu jun? katakana saja mungkin aku bisa menyanggupinya”, jawab Jeunsi.
“Boleh kah kau meminjamkan ku buku-buku arsitek paman mu yang di tinggal di kota?”, tanya ku lagi.
“oh Jun, hanya itukah? Baiklah akan kupinjamkan untuk mu, dan pastinya aku akan merahasiakan ini dari orang tua mu”, jawab Jeunsi.
“Arigatou Jeunsi-chan, aku sangat sayang padamu lebih dari aku menyayangi adik angkat ku sendiri”, sahut ku dengan senang.
“Kau selalu mengatakan itu setiap kali kau meminta bantuan padaku dan aku sanggup membantumu, dan aku sangat menyukai kata-kata itu, terima kasih Jun ku”, seru Jeunsi yang selalu menyukai kata-kata dari bahasa Jepang itu yang sering di ucapkan oleh Jun.
®®∞®®
Lonceng tanda masuk pun berbunyi, aku dan Jeunsi bergegas memasuki ruangan kelas kami, hanya ada 1 kelas untuk siswa baru di SMA ini. Aku duduk di barisan lelaki, dan Jeunsi duduk di barisan perempuan. Jarak kami memang tidak jauh, karena kelas itu juga hanya terdiri dari 4 barisan.
Di kelas baru ini, aku melihat Jeunsi cepat bersosialisasi dengan teman-teman sekelas kami, baik dengan murid laki-laki maupun murid perempuan. Jeunsi memang berwajah cantik serta ramah dan itu membuatnya gampang bergaul dengan yang lainnya. Sikapnya yang ramah, periang dan sedikit kekanak-kanakan membuat beberapa teman laki-laki di kelas kami menyukai nya. Tentu karena sifatnya yang lucu dan selalu aneh. Aku sendiri pun mengakui bahwa perasaan ku pada nya saat ini naik 1 level dari sebelumnya. Perasaan yang dulu sangat menyayanginya kini berubah menjadi perasaan dimana aku selalu merasa ingin terus menjaganya dan tidak ingin dia terluka. Aku tidak tahu ini apa, aku hanya merasa aku ingin terus berada di dekatnya.
Setiap waktu istirahat, Jeunsi selalu bergabung dengan teman-temannya, aku pu begitu. Tentu dengan perasaanku yang seperti sekarang aku selalu memperhatikan Jeunsi seolah tidak ingin dia menangis ataupun terluka dibuat oleh teman-temannya.
Jeunsi yang selalu suka membuat permainan-permainan seru di kelas, selalu menarik perhatian orang banyak. Dan terkadang dia juga suka membuat cerita-cerita aneh dari hasil imajinasinya yang begitu tinggi. Cerita-cerita dari dia lah yang sangat menarik perhatian dan semangatku di saat ku lagi kesepian dan sedih.
“Jun, apakah kau ingin mendengar sebuah cerita tentang seorang gadis kecil putri raja dan madame Neverlin yang galak ?, tanya Jeunsi dengan semangat.
“Kau tahu bukan, kalau aku selalu suka dengan cerita-cerita khayalanmu itu yang walaupun sedikit aneh kudengar”, jawabku dengan canda.
“AAAHH!! Berhentilah mengatai aneh dengan cerita-cerita khayalanku ini, Jun”, pinta Jeunsi.
“Aku hanya bercanda seperti biasanya Jeunsi-chan, ayolah tersenyum untuk ku Jeunsi”, ujar ku saat membujuk Jeunsi yang sedang kesal.
Melihat Jeunsi kesal dan merajuk seperti itu sangat lucu bagiku, wajahnya yang mengisyaratkan wajah manja selalu membuatku senang dan lucu. Dan aku sangat menyukai saat-saat seperti. Terdengar aneh memang.
®®∞®®
Hampir dua tahun aku bersekolah disekolaj ini. Hari-hariku pun dilalui bersama teman-teman sekolahku. Aku dan Jeunsi juga mulai bersikap dewasa, Jeunsi sedikit canggung dengan ku, mungkin karena dia mulai puber menurutku. Jeunsi dewasa semakin cantik. Ia menjadi primadona di sekolahan. Semua orang di sekolahan memujanya, dan tentu saja ia tidak begitu suka menjadi primadona. Jeunsi yang kukenal adalah Jeunsi yang selalu bersikap sederhana dan pastinya selalu terbuka denganku.
Ujian akhir semester pun hampir tiba, aku dan Jeunsi sering belajar sama di bukit dekat rumahnya, disana kami sering bermain sejak kecil hingga sekarang, bagiku tempat itu adalah rumah kedua bagi kami, bahkan dulu kami sempat bericita-cita ingin membua sebuah rumah di atas bukit tempat kami selalu bermain dari kecil hingga sekarang.
“Permisi bibi, ada Jun kah didalam ?”, tanya Jeunsi pada ibu Jun.
“Silahkan masuk aja ke kamar nya langsung Jeunsi, dia mungkin sedang mengotak-ngatik komputernya”, sahut bibi Nakohama pada Jeunsi.
Jeunsi pun memasuki rumah Jun dan langsung mendatangi kamar Jun. Rumah Jun sudah seperti rumah Jeunsi sendiri, begitu pun Jun terhadap rumah Jeunsi.
“Jun, kau tahu kenapa hari ini aku datang ke rumahmu ?”, tanya Jeunsi.
“Seperti biasanya bukan, kau pasti akan mengajakku ke bukit belakang rumahmu untuk mendengarkan semua ceritamu tentang anak lelaki di sekolahan yang suka padamu, bukan?, jawabku dengan sok tahu.
Aku kesal tiap kali mendengarkan cerita Jeunsi tentang para lelaki yang banyak menyukainya, dan dia selalu meminta pendapatku tentang lelaki yang akan dipilihnya untuk menjadi pacarnya. Tapi dari sekian banyak lelaki yang menyatakan perasaan padanya, belum ada sampai saat ini yang ia terima, entah apa itu alasannya aku pun belum mengetahuinya sampai sekarang.
“Bukaaan Jun, bukaaan!! Aku kemari untuk membawakanmu beberapa buku pesananan mu setahun setengah yang lalu, dan maafkan aku, baru ingat meminjamkan buku-buku ini padamu sekarang.”, ujar Jeunsi.
“Sungguh kau membawakannya untuk ku Jeun Syeong? Ohh tak ku sangka kau masih ingat dengan pesanan buku ku waktu itu, arigatou Jeunsi-chan”, sahut ku dengan senang.
“Haha sama-sama Jun, aku selalu bisa menyanggupi permintaanmu selagi aku bisa Jun”, Jeunsi menyahut.
Aku sangat senang Jeunsi masih ingat dengan pesanan buku-buku arsitek milik paman Jeunsi yang tinggal di Jepang. Aku pun mempelajari buku-buku itu bersama Jeunsi di kamarku. Banyak contoh rancangan bangunan-bangunan antic cari seluruh dunia yang sangat menarik perhatianku. Semua buku-buku itu mencakup tentang ilmu arsitektur, mulai dari gaya sampai istilah arsitektur dijelaskan secara rinci di tiap lembar buku –buku itu. Aku mempelajari banyak hal tentang arsitektur dari buku-buku yang dibawa oleh Jeunsi.
“Aku bosan Jun, tidakkah kau mengajakku ke tempat yang seru dan nyaman ?”, tanya Jeunsi dengan wajah bosan sembari Jun membolak-balik halaman dari buku-buku itu.
“Sebentar Jeunsi, aku lagi mempelajari setiap istilah-istilah dalam dunia arsitektur !”, jawab Jun dengan wajah serius.
“Kumohon Jun, ohh atau kita ke belakang bukit saja disana kau bisa mempelajari buku-buku itu dengan tenang tanpa ketahuan oleh bibi Nakohama sedangkan aku bisa memeberi makan kelinci-kelinci milik paman yang tinggal di ujung bukit itu”, bujuk Jeunsi pada Jun.
“Bagaimana kalau kita kesana lalu kau melatihku untuk mengingat beberapa istilah dalam dunia arsitektur ini? Setuju ? aku yaikin kau setuju jika setelah itu aku mengajak kau makan ice cream di seberang kota ini?”, tawar Jun dengan wajah sok seriusnya.
“AAAH, aku tidak bisa menolak jika tawaran mu adalah ice cream Pak tua itu, haha baiklah ayoo kita kesana sekarang!!”, Jeunsi mengiyakan ajakan Jun.
Aku tau ia selalu suka ice cream Pak tua itu, hanya itu cara satu-satunya bujukan yang mempan untuknya, aku tau semua tentang Jeunsi dan kuharap dia pun begitu terhadapku.
Sepanjang jalan menuju bukit, aku sesekali melihat Jeunsi sedang memegang sebuah buku notes yang diberi sampul coklat bercoverkan seorang anak lelaki dan perempuan duduk di atas bukit diselimuti dengan salju dimalam musim baru, dan aku yakin buku notes itu berisi cerita-cerita khayalannya.
“Hei Jeunsi, kau bawa apa di tanganmu itu? Terlihat seperti notes ?”, tanya ku dengan penuh curiga.
“Ah ini hanya buku catatan yang tidak begitu penting”, jawab Jeunsi.
“Ohh, bolehkah aku melihatnya?”,tanya ku sekali lagi.
“hmm..untuk sekarang jangan dulu, lain kali mungkin?’, jawab Jeunsi.
Aku sudah menduga dari awal pasti Jeunsi tidak akan memberi tahu isi buku notes itu.
“Baiklah aku tunggu sampai kau memberi tahu isi notes itu?”, ujar ku.
“Oke aku janji akan memberi tahu mu”, ujar Jeunsi meyakini Jun.
“Aku akan pegang janji mu, Jeun Syeong putri kecil Paman Jeun Sam”, aku meyakininya sekali lagi.
Dibelakang bukit, Jeunsi membantu ku untuk mengingat istilah-istilah dunia arsitektur. Kami juga saling cerita tentang semua masalah-masalah kami belakangn ini. Dan tiba-tiba Jeunsi mengatakan bahwa ia telah pacaran dengan salah seorang mahasiswa di kota sebelah. Betapa kaget aku mendengar itu semua. Aku tidak tahu-menahu tentang pria yang di pacarinya sekarang sebab Jeunsi memang tidak pernah bercerita tentang nya pada ku.
“Jun, aku sudah punya, aku sudah punya pacar , kuharap kau senang mendengar ini kabar ini?”, sela Jeunsi tiba-tiba.
“Aku-hanya-terdiam –terpaku”.
Bisikku dalam hati sangatlah geram.
Entah mengapa jantungku serasa berhenti dan aku tergelakkan akan emosi, tiba-tiba saja aku merasa panas dan ingin pergi meninggalkan nya untuk saat ini. Tapi kembali lagi, aku memang tak bisa meninggalkannya sekalipun aku lagi sakit karena nya. Aku baru menyadari akan perasaan ku saat ini, perasaan yang aneh sejak kami duduk di bangku SMA. Perasaan yang selalu membuatku terkadang bertingkah aneh di depannya. Sunggu inikah cinta yang selama ini tak pernah kusadari.
“Jun, Jun, bagaimana menurutmu? Apa aku salah telah memilihnya?”, tanya Jeunsi sekali lagi.
“Aku tak tahu Jeun Syeong, sungguh aku tak tahu harus berkata apa, jika itu yang terbaik untukmu aku akan senang mendengarnya.”, jawab ku dengan lemas.
Aku hanya mampu berbisik dalam hati, dengarkan aku dengarkan aku Jeunsi, aku lah yang pantas untukmu, takdir telah menyatukan kita dari kecil sampai selamanya dan mungkin saja Tuhan telah menitipkan mu untuk ku selamanya.
“Jun, sungguh aku ,menyesal dengan pilihanku ini, seharusnya aku memberi tahu mu tentang hal ini sebelumnya”, kata Jeunsi.
“Sudahlah Jeun Syeong, kau bahagia dengannya bukan ? aku turut senang”, sahut ku pelan pada Jeunsi.
“Sungguh aku menyesal Jun, dan asal kau tahu aku tidak menyukainya sama sekali, hanya 1 orang di dunia ini yang aku suka dan kuharap orang itu juga begitu terhadapku.”, ujar Jeunsi.
Aku merasa tiba-tiba ada yang aneh dengan ucapan Jeunsi, dan aku penasaran dengan maksud perkataannya barusan.
“Maksudmu apa Jeunsi?”, tanya ku dangan penuh tanda tanya.
“Kau akan tahu nanti Jun, ahh baiklah ayo kita makan ice cream yang kau janjikan tadi padaku Jun”, sela Jeunsi mengelak.
“Kau selalu membuatku penasaran Jeunsi, baiklah karena aku sudah berjanji padamu tadi”, ujarku.
Aku pun dan Jeunsi pergi ke Toko Pak tua itu membeli ice cream kesukaan Jeunsi. Sepulangnya kami dari makan ice cream aku menghantar Jeunsi pulang kerumahnya dulu dan kami kami tiba di rumah Jeunsi saat petang.
“Terima Kasih Jun, berhati-hatilah kau dijalan”, teriak Jeunsi saat Jun jalan membelakangi nya.
“Jun melambaikan tangan dari kejauhan”.
®®∞®®
Malam sebelum ujian semester tiba, aku belajar keras agar aku bisa masuk universitas ternama di Korea Selatan. Aku menyimpan semua buku-buku arsitektur pinjaman itu agar tidak ketahuan ibu. Ujian akhir semester ini memang singkat hanya berlangsung 3 hari. Tapi ini adalah penentuan kelulusan kami sebagai siswa tingkat terakhir di sekolah kami.
Jeunsi belajar dengan dibantu guru privatenya di ruang belajarnya dirumah. Ia memang siswi yang pintar dan rajin. Mungkin aku adalah salah satu saingannya di kelas. Peringkat kami juga tidak jauh berbeda. Walaupun aku selalu berada satu peringkat dibawahnya. Tapi itulah kami, bersahabat sekaligus bersaing untuk pendidikan.
Hari-hari ujian kami lalui, hingga akhirnya papan pengumuman kelulusan di pasang di madding utama sekolah. Para siswa-siswi berkerumunan melihat hasil nilai mereka. Aku sengaja datang cepat agar tidak bersempit-sempitan melihat hasil nilai ujian kami.
Aku dan Jeunsi tiba di sekolah saat masih sepi, dan kami langsung berjalan menuju papan madding yang membuat nilai-nilai hasil ujian kami.
“AAAAAA….Akhirnya aku LULUS aku dapat peringkat 3!!”, seru ku senang.
“Ya Tuhan aku juga LULUS, aku dapat peringkat 2 Jun, sunggun!!”, jerit Jeunsi dengan senang.
Dan tentu saja si pintar Kim Dong yang memegang peringkat teratas. Dia memang siswa terpintar di sekolahan kami dan tentu saja dia adalah anak orang kaya pemilik villa di salah satu pantai dekat kota kami.
Aku dan Jeunsi pun peri ke belakang bukit untuk merayakan kelulusan kami, disana kami berpiknik ria sama seperti kami merayakan sesuatu jika kami sedanh senang atau bahagia. Malam disaat kami sedang merayakan kelulusan kami, salju pertama turun pertanda datangnya musim salju di akhir tahun ini, dan tentu saja sebentar lagi adalah tahun baru.
“Jun, aku kedinginan, tidakkah kau membawa hoddie mu yang biasa kau pinjamkan untukku?”, tanya Jeunsi.
“Maaf Jeunsi, aku lupa membawanya, tadi pagi aku buru-buru berangkat ke sekolahan”, ujarku.
Aku tahu Jeunsi pasti sangat kedinginan sama seperti yang kurasakan, karena kami hanya memakai seragam sekolah yang sejak dari pagi kami kenakan.
“Ohh tunggu sebentar Jeunsi, sepertinya aku masih menyimpan sarung tangan buatanmu yang pernah kau kasih untukku di malam tahun baru tahun lalu”, sela ku saat ingat ketika Jeunsi pernah memberiku sarung tangan biru rajutannya saat malam tahun baru tahun lalu.”
Aku pun segera mengambil sarung tangan buatannya di dalam ransel ku, ya aku selalu menyimpannya di dalam ransel ku dan kemanapun selalu ku bawa.
“Pakailah ini Jeunsi”, ujarku sambil memasang nya ke tangan Jeunsi.
“Terima kasih Jun, aku tahu kau juga sama kedinginannya dengan ku, mungkin lebih baik kau menggunakan yang satunya lagi di tanganmu”, sela Jeunsi sambil melepas sarung tangan sebelah kanannya dan memasangkannya ke tangan kanan Jun.
Di malam yang dipenuhi dengan salju di malam pertama musim baru ini, kami saling bercerita tentang masa kecil kami dulu sambil berpegangan tangan dan di selimuti dengan kain panjang rajutan bibi Song Geuk, ibu nya Jeunsi.
Aku merasa seperti memegang tangan seorang gadis kecil yang seharusnya aku lindungi selalu. Dan aku tahu itu. Aku tahu bagaimana perasaanku saat ini padanya, tahu persis hanya saja aku tak berani mengungkapkannya karena aku tahu dia telah miliknya bukan milikku.
“Jeunsi, apa kau bahagia saat ini?”, tanya ku.
“Maksud mu Jun? aku sungguh tidak mengerti, bukankah aku memang selalu bahagia saat bersama mu Jun?”, tanya Jeunsi bingung.
“Ya aku tahu kau memang selalu tersenyum di hadapanku bahkan pada semua orang. Tapi bukan itu maksudku.”, ujarku.
“Lalu apa Jun? aku tak mengerti”, tanya Jeunsi sekali lagi.
“Bagaimana hubungan mu dengan lelaki mahasiswa itu?”, tanya ku memberanikan diri.
“Ohh itu, sudah lama berakhir Jun, sejak aku menceritakan tentangnya waktu itu”,jawab Jeunsi.
“Bagaimana bisa? Lalu siapa orang yang kau suka waktu itu?”, tanya ku lagi.
“Haha, aku tahu kau pasti akan menanyakan hal itu lagi, semuanya ada di buku notes itu Jun”, jawab Jeunsi lagi sambil member jawaban atas semua pertanyaanku.
Jeunsi pun menyerahkan buku notes itu kepadaku, dia mempersilahkan ku membuka notes itu. Perlahan ku melepaskan genggaman tanganku darinya dan membuka satu-persatu halaman notes itu. Di awal halaman aku hanya melihat foto-foto masa kecil kami. Lucu saat ku mengingat kenangan kami dulu. Lalu aku membuka halaman selanjutnya, di sana aku melihat tulisan yang bertuliskan :
Dear,
I`m afraid I will give up on life
Im afraid if you leave me alone in my dream
I hope that will become a dream
That in my dream
You promise me to come to me
And we will life forever together in my dream
Without word you make me know what of the love
And there will come a time,
When you`ll see
I will hold your hand and hug you from back
Nb : Friends is completes my life and love is a part of my life
Remind me of the memories we have
Sungguh tertegun aku ketika membaca tulisan indah hasil rangkaian Jeunsi. Namun sampai sekarang aku tak mengerti apa dan siapa yang di maksudnya dalam tulisannya itu. Dan aku baru menyadari bahwa tangan Jeunsi sudah melingkarkan tangannya di tanganku, mungkin ia sedikit kedinginan saat itu, aku tahu itu karena ia biasanya selalu seperti itu saat kedinginan.
Lalu aku bertanya pada Jeunsi, “Jeunsi, siapa yang kau maksud dalam mimpi yang ada di tulisan mu itu ?”, tanyaku pelan.
“Jun, aku tahu kau pasti kau terkejut saat aku mengatakan ini, tapi ini lah dia kenyataannya, sudah lama aku menulis ini dan baru sekarang aku berani menunjukkan ini padamu”, jawab jeunsi dengan gemetaran seraya melepaskan tangannya dari tangan Jun.
“Katakan saja Jeunsi, atau aku yang akan mengatakannya duluan?”, sela ku.
Aku pun menggeggam tangan Jeunsi dengan erat sama seperti biasanya saat aku melihat Jeunsi sedang ketakutan ataupu gelisah. Tak ada rasa canggung saat kami berpegang tangan seperti biasanya tapi entah mengapa kali ini aku merasa beda, mungkin karena kami sudah dewasa.
“Sungguh Jun, aku sangat menyukai mu, kau tahu itu dari dulu kan?”, kata Jeunsi.
“Aku tahu Jeun Syeong, aku juga begitu padamu dan kau juga pasti tahu, karena kita sudah lama memang di takdirkan untuk selalu bersama, walau kita hanya sebagai sahabat.”, jawabku dengan lirih.
“Sahabat katamu Jun, ya aku mengerti, tapi apa kau tahu aku bisa lebih dari itu padamu? Dan aku ingin kau….”, ujar Jeunsi sambil meyakini Jun.
“oh Jeun Syeong, kau tahu kau berkata apa barusan? Aku sangat senang mendengarnya, dan tak usah kau lanjutkan kata-katamu itu barusan, biar aku saja yang melanjutkannya, sela Jun tiba-tiba disaat Jeunsi ingin melanjutkan kata-katanya barusan.
“Jeunsi, mungkin aku sudah menganggapmu sebagai sahabat sekaligus adikku, tapi kau tahu mungkim takdir Tuhan memilih kita menjadi sepasang kekasih, ya aku tahu kau bukan diriku dan aku bukan dirimu. Kita memang beda dan karena itu Tuhan menyatukan semua perbedaan, begitulah kata-kata yang ku ingat saat aku diceramahi oleh ibu ku”, ujarku sambil bercanda agar suasana tidak terlalu larut dalam keheningan.
“Jadi sekarang?”, tanya Jeunsi.
“Ya aku akan menjagamu sampai kau bosan dan pada akhirnya kau pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya”, jawabku dengan serius dan meyakini Jeunsi yang sangat kusayangi.
Jeun Syeong diam tidak menjawab lagi, seluruh badannya dingin dan kaku, ku pikir dia hanya kedinginan sama seperti yang kurasakan. Tapi lama kelamaan aku merasa ada yang beda dengan Jeunsi, ia tak bergerak dan bersuara, sekali lagi kupikir dia tertidur karena cuaca malam ini sangat dingin. Aku pun membiarkannya tertidur di bahu ku.
Malam semakin larut dan aku berniat membangunkan dan mengajak Jeunsi pulang ke rumah, karena aku tahu ibu jeunsi pasti marah kalau tahu anak semata wayangnya pulang terlalu larut malam.
Baru saja aku ingin membangunkannya, di saat aku ingin berdiri tiba-tiba saja tubuh Jeunsi lemas tak berdaya seolah tubuhnya tak ada lagi keseimbangan. Kupikir dia hanya terlalu lelah namun setelah beberapa kali aku membangunkannya, ia masih saja tak mau bangun dari tidurnya. Aku makin curiga dan khawatir, kucoba memeriksa nadi nya namun apa yang terjadi, aku merasakan sebuah nadi yang tak berdetak sekalipu, dingin dan beku. Sontak aku terkaget dan tak merasakan lagi betapa dinginnya cuaca malam ini.
Dan aku baru menyadari bahwa Jeunsi telah tiada, telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan aku dan kami yang banyak menyayanginya. Sesaat aku membiarkan tubuh Jeunsi tergeletak di dekat ku, lalu aku membuka halaman terakhir dari buku notes yang selalu dirahasiakannya padaku selama ini, tertulis jelas disana :
“Aku Jeun Syeong, seorang gadis asal Korea yang seumur hidupku akan kuhabiskan untuk bersenang-senang tanpa merasakan sakit sedikitpu, walau ku tahu sakit ini akan selalu kurasakan tiap saat. Dan yang kutahu aku hidup untuk orang yang telah melindungi, menyayangi, dan menyukaiku, dia lah Matsu Jun, orang yang kutahu selama in selalu berada di dekatku.
Mungkin kau akan marah padaku Matsu Jun karena aku selalu terlambat untuk mengatakan semua ini padamu. Karena aku terlalu takut untuk kau miliki, aku takut kau terlampau jatuh padaku dan hingga akhirnya kau tak kuasa menahan kesakitan karena aku akan segera pergi meninggalkanmu di akhir tahun ini.
Dan asal kau tahu Jun, kelak kau pasti akan menjadi seorang arsitek ternama seperti paman ku yang berada di Jepang. Datanglah kau menemuinya di saat acara pemakamanku kelak, disana kau angkat menjadi asistennya di Jepang, dan aku yakin Orangtua mu pasti tak akan keberatan akan hal itu, percayalah. Aku juga sangat ingin kelak kau akan membangun satu tempat di atas bukit ini untuk mengenang semua tentang kita, ya dan k u harap tentunya dengan hasil bangunan rancangan mu sendiri. Dan kau past ibisa. Ku yakin itu Jun.”
Saranghaeyo Jun...
®®∞®®
Aku tahu ini adalah akhir tahun paling indah bagiku, dan mungkin saja ini hanya lah sebuah mimpi bagiku, dan aku takut untuk terbangun dari mimpi indah ini, aku memang bukanlah pesajak yang pintar membuat kata-kata yang ku tahu hanyalah merasakan dan menyampaikan perasaanku dalam sebuah tulisan dan ungkapan. Yang ku ingat hanyalah satu halaman yang penuh dengan kata-kata indah dari seorang sahabat sekaligus adik bagiku yang kini telah pergi meninggalkanku. Jeunsi ku telah pergi meninggalkanku sesaat setelah aku dan dia menyatakan perasaaan kami satu sama lain di akhir tahun dimana salju pertama turun di musim baru kala itu.
Jeunsi memang sempat membuatku marah karena ia telah merahasiakan tentang penyakitnya selama ini, aku tahu dia begini karena tak ingin dikasihani oleh orang-orang disekitarnya. Jeunsi mengidap kelainan jantung sejak kecil, dan tak ada satupun donor jantung yang ia dapatkan sampai akhirnya jantungnya tak sanggup lagi memberikan kehidupan untuknya.
Dan aku tahu Jeunsi telah menuliskan semua ini di buku hariannya, semua kenangan tertulis rapi di buku harian bersampulkan sampul coklat yang kini terlihat usang di mataku. Kini buku itu berada di rumah seni yang aku bangun untuk mengenang Jeunsi, Jeunsi sahabatku...selamanya di mimpi dan nyataku.
Arigatou Jeunsi-chan
Karya : Maulina Hanisyah.P
31122010
